Apakah Perceraian Menghancurkan Kejiwaan Anak?

Tidaklah asing untuk mengingat dan mengucapkan kata “keluarga”. Tapi bagaimana kalau pertanyaan ini ditanyakan ke seseorang yang memiliki pengalaman pahit oleh keluarganya “Broken Home”. Apakah orang itu senang atau sebaliknya ketika sebuah pertanyaan itu dilontarkan mengalami ketidakstabilan emosional.

Dan arti keluarga itu sendiri menurut beberapa pakar studi adalah sebagai sebuah lingkungan yang terjalin dari beberapa individu yang memiliki hubungan darah. Pada hakikatnya semua mendambakan sebuah hubungan yang harmonis dalam keluarganya, tapi dalam kehidupan nyata dan realita ternyata tidak selamanya menyenangkan.
Banyak terdapat contoh keluarga harmonis dan keluarga tidak harmonis. Dan ketidak harmonisan bisa jadi munculnya ketidakcocokan antara seorang suami dan istri dijadikan alasan terjadinya perceraian. Tapi dari selain alasan ketidakcocokan yang dirasakan oleh kedua individu ini adalah alasan perselingkuhan.

Kadang menyebabkan pertengkaran, perpisahan dan keributan hak anak asuh yang biasa muncul sebagai runtutan kehancuran rumah tangga. Tapi kehancuran sebuah rumah tangga bukanlah sebuah akhir rentetan perceraian di sebuah rumah tangga dan melainkan awal dari kehancuran bagi seluruh anggota keluarga. “kok bisa?” nah bagi beberapa orang tua yang tidak memiliki kemampuan mempertahankan keutuhan rumah tangga akan menjadi sebuah dilema, trauma, bahkan kiamat yang paling mengerikan bagi anak-anak mereka.

Dan para ahli psikologi mengatakan masalah yang akan ditimbulkan dari pertengkaran dan percekcokan rumah tangga yang rumit mengakibatkan masalah psikologis anak. Dan jika anda mengetahui begitu besarnya perubahan psikologis yang akan terjadi pada seorang anak yang menjadi korban perceraian, pastinya andapun akan menyesali di kemudian hari. Tapi hal itu sudah terlambat anda sadari, bukan?

Trauma memegang peran penting sebagai kehancuran psikologis anak berusia dibawah 7 tahun. Dalam keilmuan psikologi akan muncul hambatan psikologis yang akan menyelubungi pikiran seseorang dan dinamakan sebagai mental block. Karena pada usia yang sangat rawan ini seorang anak sangat membutuhkan dasar pembelajaran sebagai dasar emosi seperti rasa aman, pengontrolan diri, dan kebutuhan yang diterima. Dan ini semua harus dipenuhi atas peran kedua orang tua.

Tahukah anda seberapa besar berbahayanya Mental Block bagi anak anak anda? Jawaban yang paling tepat ada di diri anda sendiri tentunya. Dan anda pun semakin penasaran sekarang, bukan?

Menurut para ahli psikologis pada usia anak sekiar 20 an sebuah mental block akan sangat menghambat perkembangan dan segala tujuan seseorang. Karena kurang terpenuhinya pendidikan karakter pada anak. Dan dalam sebuah perjalanan hidupnya akan sulit diatur dan diajak kerjasama oleh siapapun bahkan termasuk lingkungannya, egoisme, pemberontak dan tidak terbuka kepada orang tuanya. Dan dari beberapa kelakuan tersebut akan semakin sulit bagi orang tua untuk menasehatinya.

Dan maka dari itu kalian para orang tua segera berikan yang terbaik bagi anak anak anda terutama dari usia dini. Dan sekarang cepat atau lambat anda segera mengajarkan hal hal baik, kasih sayang dan segera tanamkan pengetahuan agama sebagai pegangan hidup.