Attention Deficit Hyperactivity Disorder ( ADHD )

adhd attention deficit hyperactivity disorder

Attention Deficit Hyperactivity Disorder atau lebih dikenal dengan ADHD berarti gangguan pemusatan perhatian disertai hiperaktif yaitu gangguan pemusatan pikiran dalam bentuk yang jernih dan gambling, ketidakmampuan mengabaikan objek-objek lain agar seseorang sanggup menangani objek tertentu secara efektif.

Sebelumnya pernah ada istilah ADD (Attention Deficit Disorder) yang berarti gangguan pemusatan perhatian. Pada saat ditambahkah hyper-activity/hiper-aktif penulisan istilahnya manjadi beragam. Ada yang ditulis ADHD,AD-HD, ada pula yang menulis ADD/H. Penulisan istilah itu, maksudnya adalah sama.

Definisi ADHD secara umum yaitu menjelaskan kodisi anak-anak yang memperlihatkan ciri atau gejala kurang konsentrasi, hiperaktif, dan impulsif yang dapat menyebabkan ketidakseimbangan sebagian besar aktivitas hidup mereka.

Ciri-Ciri  ADHD

 

  1. Rentan perhatian yang kurang dengan gejala-gejala:
  2. Gerakan yang kacau
  3. Cepat lupa
  4. Mudah bingung
  5. Kesulitan dalam mencurahkan perhatian terhadap tugas-tugas atau kegiatan bermain
  6. Impulsivitas yang berlebihan dengan gejala-gejala:
  7. Emosi gelisah
  8. Mengalami kesulitan bermain dengan tenang
  9. Mengganggu anak lain
  10. Selalu bergerak
  11. Adanya hiperaktivitas.

Ada beberapa masalah perilaku yang muncul di sekolah :

  1. aktivitas motorik yang berlebihan
  2. Menjawab tanpa ditanya
  3. Menghindari tugas
  4. Kurang perhatian
  5. Tidak menyelesaikan tugas secara tuntas
  6. Bingung terhadap arahan
  7. Disorganisasi aktivitas
  8. Tulisan yang jelek
  9. Masalah-masalah sosial

Faktor Penyebab ADHD

ADHD hanya dapat dilihat dari perilaku yang sangat kentara pada diri anak ADHD. Karena ADHD adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan beberapa pola perilaku yang sulit dibedakan di antara anak-anak yang kelak suatu hari ditemukan perbedaan beserta penyebabnya. Perasaan frustrasi dan perasaan tidak berdaya dapat menyerang secara bertubi-tubi pada diri anak ADHD. Sebuah laporan yang ditulis pada 1987 dalam Kongres Amerika Serikat yang disiapkan oleh Inter-Agency Committee of Learning Disabilities menerangkan, bahwa sebab-sebab ADHD ada kaitannya dengan gangguan fungsi neurologis khususnya gangguan di dalam biokimia otak yang mencakup aspek neurologis dari neurotransmitter. Namun para peneliti kurang mengerti dengan jelas mekanisme khusus mengenai bahan kimia neurotransmitter ini. Ternyata, neurotransmitter dapat mempengaruhi perhatian, pengendalian impuls, dan tingkat aktivitas anak.

Penyebab ADHD telah banyak diteliti dan dipelajari, tetapi belum ada satu pun penyebab pasti yang tampak berlaku untuk semua gangguan yang ada. Berbagai virus, zat-zat kimia yang berbahaya dijumpai di lingkungan sekitar, baik di rumah maupun di luar rumah dalam bentuk limbah pabrik, faktor genetika dari salah satu orang tua atau genetik kedua orang tua, masalah selama kehamilan ibu, dan pada saat kelahiran, atau apa saja yang dapat menimbulkan kerusakan perkembangan otak berperan penting sebagai penyebab ADHD.

a. Faktor genetika

Beberapa bukti penelitian menyatakan, bahwa factor genetika adalah factor penting dalam memunculkan perilaku ADHD (Kuntsi dan Stevenson, 2000; Tannock, 1998).

Secara umum, berdasarkan beberapa penemuan dari sisi keluarga, adopsi, anak kembar, dan gen-gen tertentu, bahwa ADHD adalah penyakit keturunan, meskipun mekanismenya yang lebih tepat belum diketahui (Levydan Hay, 2001)

b. Faktor neurobiologist

ADHD sangat sulit dipahami, namun begitu diduga ada factor langsung maupun tidak langsung dari keadaan neurobiologist (Barkley, 2003; Faraone dan Biederman, 1998). Factor tidak langsung adalah bukti yang tidak mengikut sertakan factor langsung dari otak atau fungsinya dan berasal dari keterkaitan antara peristiwa atau kondisi yang berhubungan dengan status neurologis atau simtom-simtom ADHD, di antaranya adalah:

  • Petistiwa pasca kelahiran, seperti komplikasi kelahiran dan penyakit.
  • Keracunan lingkungan, seperti kandungan timah.
  • Gangguan bahasa dan pembelajaran.
  • Tanda-tanda ketidakmatangan neurologis, seperti berperilaku aneh, lemah keseimbangan dan koordinasi, serta adanya refleks yang tidak normal.
  • Peningkatan dalam simtom-simtom ADHD diakibatkan oleh zat obat-obatan yang dilakukan dalam terapi medis dan diketahui sangat berpengaruh terhadap system jaringan otak sentral.
  • Persamaan di antara simtom-simtom ADHD, simto-simtom yang dihubungkan dengan kerusakan pada korteks prefrontal (Fuster, 1989; Grattal dan Eslinger, 1991).
  • Menurunnya kemampuan anak ADHD pada tes neuropsikologis yang dikaitkan pada fungsi lobus prefrontal (Barkeley, Grodzinsky, dan DuPaul, 1992).

Perbedaan dalam tingkat aliran darah yang menuju bagian otak prefrontal dan jalur-jalur yang menghubungkan daerah ini dengan system limbic, memperlihatkan aliran darah yang lemah pada bagian-bagian ini (Hendren, De Becker, dan Pandina, 2000). Adapun perbedaan yang lain yaitu ketidaknormalan otak dan penemuan-penemuan neurofisiologis dan neurochemical.

c. Diet, alergi, dan zat timah

Terlalu banyak kontroversi mengenai kemungkinan bahwa reaksi karena alergi dan diet adalah penyebab ADHD. Penghubungan ini tidak banyak diterima oleh banyak kalangan (McGee, Stanton, dan Sears, 1993). Sebuah pandangan yang popular pada tahun 70 dan 80-an, bahwa zat tambahan pada makanan menyebabkan anak hiperaktif dan inatentif. Namun penelitian tidak mendukung aturan zat tambahan makanan sebagai penyebab utama ADHD (Onners, 1980; Kavale dan Fornass, 1983). Diet dapat membantu sekelompok kecil anak ADHD. Sebagian besar dari mereka berusia sangat muda dan sebagian dari mereka elergi terhadap makanan tertentu (Arnold, 1999).

Zat timah dalam tingkat rendah yang ditemukan pada debu, minyak, dan cat di daerah-daerah yang terdapat gasoline dan cat bertimah yang sekali pakai langsung dibuang dapat dikaitkan dengan simtom-simtom ADHD diruang kelas (Fergusson, Horwood, dan Lynskey, 1993). Namun sebagian besar anak ADHD adalah lemah (Kahn, Kelly, dan Walker, 1995). Kesimpulannya meskipun diet, elergi, dan zat timah telah mendapat perhatian sebagai penyebab ADHD, tetapi jika disebutkan sebagai penyebab utama ADHD belumlah terbukti. 

Perlakuan dan Penanggulangan ADHD

a. Perlakuan Utama :

  • Terapi medis: Mengendalikan ciri ciri ADHD
  • Pelatihan manajemen orang tua: mengendalikan perilaku anak yang merusak di rumah, mengurangi konflik antara anak dan orang tua, serta meningkatkan pro-sosial dan perilaku regulasi diri
  • Intervensi pendidikan: mengendalikan perilaku yang merusak di kelas, meningkatkan kemampuan akademis, serta mengajarkan perilaku pro-sosial dan regulasi diri

b. Perlakuan intensif

  • Program-program bulanan: melakukan penyesuaian di rumah dan keberhasilan ke depan di sekolah dengan mengomindasikan perlakuan tambahan dan pokok dalam program yang intensif

c.Perlakuan tambahan

  • Konseling keluarga: coping terhadap stress keluarga dan individu yang berkaitan dengan ADHD, termasuk kekacauan hati dan permasalahan suami istri
  • Kelompok pendukung: menghubungkan orang tua dengan orang tua anak ADHD lainnya, berbagi informasi dan pengalaman mengenai permasalahan umum dan member dukungan moral
  • Konseling individu: memberi dukungan di mana anak dapat membahas permasalahan  dan curahan hati pribadinya

d. Dari orang tua

Jika orang tua mencurigai adanya gangguan ADHD pada anak-anaknya, hal yang harus dilakukan orang tua adalah sebagai berikut.

  • Berkonsultasi dengan ahli jwa (psikiater), psikolog, ahli syaraf anak, atau dokter spesialis anak-anak guna meminta saran terbaik
  • Abu Albani Centre memiliki salah satu spesialis pengobatan dalam menangani kasus anak anak dengan gangguan ADHD.
  • Bersabar ketika anak mengalami ADHD, dan diperlukan waktu yang cukup lama untuk memperoleh kemajuan bagi anak.
  • Bersikap jeli, kreatif, dan tanggap.
  • Yakinlah bahwa anak masih memiliki kelebihan.
  • Berikan dukungan pada kekuatan anak, kemampuannya, serta bangkitkan perasaan dalam diri anak bahwa dia berharga bagi keluarga dan lingkungan sekitar
  •  Ingatlah, bahwa dalam beberapa kasus, rasa gagal, frustrasi, rendah hati, dan tekanan kejiwaan yang biasa dialami anak dapat menimbulkan masalah yang lebih besar dibandingkan kelainan atau gangguan itu sendiri
  • Dapatkan informasi lebih akurat yang berkaitan dengan gangguan ini dari perpustakaan, internet, atau sumber-sumber lainnya.
  •  Bicara atau tukar pikiran dengan keluarga lain yang memiliki anak ADHD.
  • Berjumpa dan bergabung dengan organisasi atau perkumpulan yang anggotanya terdiri dari keluarga yang mempunyai masalah yang sama.

e. Dari sekolah

  • Tempatkan siswa di dekat guru, masukkan mereka sabagai bagian dari kelas biasa.
  • Tempatkan siswa di depan dengan membelakangi kelas agar siswa-siswa lainnya tidak tampak.
  • Kelilingi siswa ADHD dengan model peran yang baik.
  • Hindari rangsangan yang mengalihkan perhatian
  • Anak ADHD tidak menghadapi perubahan dengan baik. Jadi, hindari peralihan, perubahan jadwal, relokasi fisik (meja atau kursi yang dipindah sembarangan), atau gangguan teman.
  •  Kreatif dan tenang
  • Memberikan petunjuk yang jelas
  • Sederhanakan petunjuk-petunjuk yang kompleks
  • Pastikan bahwa siswa ADHD memahami apa yang mereka lakukan sebelum mereka memulai tugas
  •  Membantu anak ADHD agar merasa nyaman dengan meminta bantuan
  • Anak ADHD membutuhkan lebih banyak bantuan untuk waktu yang lebih lamadibandingkan anak rata-rata. Setelah itu, secara bertahap kurangi bantuan.
  • Buatkan buku catatan tugas sehari-hari
  • Memberikan tugas satu per satu

Demikian artikel dan bahasan mengenai gangguan ADHD yang pada masa kini banyak kita temui. Artikel ini kami himpun dari berbagai sumber dengan maksud sebagai bahan pertimbangan orang tua dalam menghadapi anak yang mengalami gangguan ADHD.

Semoga bermanfaat.

Salam AAC.

 

aac by csant