Definisi Halusinasi

Halusinasi

Halusinasi adalah persepsi yang kuat atas suatu peristiwa atau objek yang sebenarnya tidak ada. Halusinasi dapat terjadi pada setiap panca indra (yaitu penglihatan, pendengaran, perasa, penciuman, atau perabaan). Meskipun halusinasi adalah bagian dari banyak penyakit, ada juga saat-saat di mana ia dianggap normal atau umum, misalnya ketika tertidur atau selama pengalaman religius.

Halusinasi dapat terjadi dalam berbagai bentuk yang paralel dengan indra manusia. Halusinasi visual melibatkan indra penglihatan, atau “melihat sesuatu.” Halusinasi pendengaran umumnya melibatkan “pendengaran suara”, jenis paling umum dari halusinasi. Kadang-kadang, halusinasi dapat mencakup pengalaman suara dan visual; profesional kesehatan mental menggambarkannya sebagai “halusinasi auditori-visual.” Mencium adanya bau atau merasakan ada sesuatu di kulit seseorang yang sebenarnya tidak ada adalah bentuk-bentuk halusinasi somatik (berasal dari soma, kata Yunani untuk tubuh). Perbedaan halusinasi dengan DELUSI adalah bahwa delusi merupakan kesalahpahaman atas hal-hal yang secara objektif hadir

Halusinasi merupakan pengamatan yang sebenarnya tidak ada, namun dialami sebagai suatu realitas. Dalam hal ini mempunyai ciri-ralitas nyata yang betul-betul dialami atau dihayati oleh subjek. Halusinasi tersebut dialami sebagai satu pengamatan. Sedang pseudo-halusinasi dialami orang sebagai tanggapan.
Orang yang mengalami halusinasi itu melihat dan mendengar peristiwa-peristiwa tertentu; namun perangsang fisik dari peristiwa tadi sama sekali tidak ada.halusinasi biasanya berlangsung pada: orang yang sakit berat, terkena racun-racun tertentu (candu, alkohol, bahan narkotik), dan penderita psikosa berat.
Pseudo-halusinasi adalah peristiwa yang dihayati sebagai tanggapan, dan bukan sebagai sebagai “sepertinya satu pengamatan” (pengamatan semu); merupakan satu tanggapan spontan.
Pseudo-halusinasi ini siring muncul sendiri diluar kontrol kemauan kita, dengan bagian-bagian detail indrawi yang sangat jelas. Pseudo-halusinasi itu pada umumnya dimuati oleh emosi-emosi yang kuat. Jadi padanya ada nilai perasaan yang tinggi sekali.

Seorang penderita pseudo-halusinasi itu mengetahui bahwa segala sesuatu yang dilihat atau didengar itu bukanlah kenyataan. Akan tetapi dia tidak bisa melepaskan diri dari belenggu-belenggu tanggapan tersebut. Contohnya, seorang pasien deprsif dengan kecemasan-kecemasan kronis, selalu melihat iringan-iringan kranda orang mati, melihat api neraka yang menyala berkobar-kobar yang akan membakar dirinya, melihat orang yang dirobek-robek dan dianiaya, mendengar suara-suara ancaman yang mengandung maut, dan lain-lain. Dia menyadari bahwa gambaran-gambaan tanggapan tadi tidak ada, dan bukan merupakan kenyataan; akan tetapi dia tidak bisa melepaskan diri dari “tangkapan” cakar-cakar tanggapan yang serba mengerikan yang tampaknya akan menerkam dirinya. Semua gambaran itu segaris dengan fantasi-fantasi kecemasannya. Maka apabila si penderita menjadi sembuh, akan hilanglah semua halusinasi dan pseudo-halusinasinya.

Gejala psikis yang dekat atau mirip dengan halusinasi ialah mimpi. Dalam mimpi, kita melihat orang-orang dan peristiwa-peristiwa yang tidak ada; dan hanya ada dalam mimpi itu sendiri. Namun pada peristiwa mimpi itu tidak menunjukkan adanya penyakit jiwa atau gangguan fungsi serta gangguan adaptasi. Mimpi itu bahkan mempunyai arti tertentu bagi adaptasi; yaitu sebagai penyaluran atau peletupan bagi kecemasan-kecemasan dan harapan-harapan tertentu. Anak yang mengigau sewaktu tidur, pada umumnya tengah bermimpi buruk; dan biasanya suka dibangunkan. Jadi sulitlah untuk membebaskan seseorang dari cekaman mimpi tersebut.
 

SEBAB-SEBAB HALUSINASI

1.   Gangguan organic à  epilefsi temporalis

Paling sering dijumpai yaitu :

·         Halusinasi visual

·         Halusinasi olfaktorik

·         Halusinasi gustatorik

2.   Intoksikasi  à  Kokain, Amfetamin

3.   Putus zat à  hipnotik-sedatif dan alcohol

                           Berupa kutu yang merayap diatas atau dibawah kulit

4.   Gangguan Psikatrik à  :

·         Skizofrenia                    

·         Ggn kepribadian ambang

·         Skizofrenioform             

·         Psikosis reaktif sejenak

·         Skizoafektif                    

·         Mania

·         Depresi psikotik

5.   Disengaja à  Induced psychotic disorder

     Berpura-pura halusinasi dalam keadaan tertentu demi keuntungan sekunder. Contoh; untuk menghindari dari hukuman dan tuntutan tertentu

JENIS-JENIS HALUSINASI :

1.   Halusinasi penglihatan (visual,optik) : tak berbentuk (sinar,kilapan atau pola cahaya) atau berbentuk (orang, binatang atau barang lain yang dikenalnya),berwarna atau tidak.

2.   Halusinasi pendengaran (auditif,akustik) : suara manusia, hewan, mesin, barang, kejadian alamiah dan musik.

3.   Halusinasi penciuman (olfaktorik) : mencium sesuatu bau

4.   Halusinasi pengecap (gustatorik) : merasa atau mengecap sesuatu

5.   Halusinasi peraba (taktil) : merasa diraba, disentuh, ditiup, disinari atau seperti ada ulat bergerak dibawah kulitnya

6.   Halusinasi kinesterik : merasa badannya bergerak dalam sebuah ruang, atau anggota badannya bergerak ( umpamanya anggota badan bayangan atau “phantom limb”)

7.   Halusinasi visceral : perasaan tertentu timbul didalam tubuhnya

8.   Halusinasi hipnagogik : terdapat ada kalanya pada seorang yang normal, tepat sebelum tertidur persepsi sensorik bekerja salah

9.   Halusinasi hipnopompik : seperti halusinasi hipnagogik tetapi terjadi tepat sebelum terbangun sama sekali dari tidurnya. Disamping itu adapula pengalaman halusinatorik dalam impian yang normal

10.  Halusinasi histerik : timbul pada nerosa histerik karena konflik emosional

Keyakinan tentang halusinasi ialah sejauh manakah pasien itu yakin bahwa halusinasinya merupakan kejadian yang benar, umpamanya mengetahui bahwa hal itu tidak benar, ragu-ragu atau yakin sekali bahwa hal itu benar adanya.

Halusinasi itu dapat timbul pada skizofrenia dan pada psikosa fungsional yang lain, pada sindrom otak organic, epilepsy (sebagai aura), neurosa histerik, intixikasi atropin atau kecubung. Zat halusinogen dan dan pada deprivasi sensorik.