Gangguan Jiwa Akibat Masalah Sosial

Gangguan Jiwa Akibat Masalah Sosial

Kisah Nyata : Gangguan Jiwa Akibat Masalah Sosial

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh

Sahabat AAC yang terhormat,

Kisah berikut ini, kami ambil dari pengalaman merawat pasien gangguan jiwa. Keinginan besar dan tinggi yang tidak dibarengi dengan kemampuan dan angan-angan yang berkepanjangan menyebabkan seseorang sampai menderita gangguan jiwa.

Sebut saja namanya, Desi  (nama samaran). Istri seorang Pegawai tinggi salah satu perusahaan Swasta Nasional terbesar di Indonesia. Sang suami,  mengantarkan istrinya ke klinik Abu Albani Centre. Desi Bedul, memiliki gangguan adanya halusinasi, bisikan-bisikan hingga perintah untuk melakukan sesuatu yang baik ataupun yang jahat. Saat bertemu dengan tim AAC, Desi terlihat murung, tidak mau bicara dan mood tidak beraturan. Wajahnya tampak kusut, gelap dan tidak nampak bersahabat.

Tim AAC, awalnya melakukan terapi ruqyah kepada Desi, hasil dibacakan ayat-ayat Al Quran, Desi tidak menampakan adanya gangguan jin atau pun pengaruh sihir. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Desi mengalami gangguan pada saraf otak. Desi membutuhkan terapi dan pengobatan medis.

Ketika melakukan terapi selama minggu pertama, dengan terapi ruqyah, akupuntur, totok saraf dan bekam ditambah adanya obat2an medis, Desi merasakan adanya sedikit perubahan pada bisikan-bisikan yang mulai mengendur dan tidak kencang. Sudah mulai mau bicara kepada Tim AAC dan kepada pasien lainnya. Walau sesekali Desi masih merasa bahwa dirinya masih terkena gangguan jin. Dengan ketekunan dan kesabaran, sedikit demi sedikit Tim AAC dapat meyakinkan bahwa Desi tidak kena pengaruh jin.

Menjelang minggu kedua perawatan, Desi mulai dapat curhat kepada tim AAC. Tampak sekali Desi menganggap bahwa dirinya memiliki posisi dengan strata sosila yang lebih tinggi dari kondisi sebenarnya. Selalu membandingkan dan melihat ke strata yang paling tinggi. Walaupun posisi Desi dan suaminya cukup lumayan dikalangan tetangga. Akan tetapi pandangan Desi, bahwa dirinya sangatlah berlebih, memiliki segalanya dan terkesan sombong, sehingga mengakibatkan ketidakmampuan dirinya menerima kenyataan yang sebenarnya membuat dirinya makin lama makin tenggelam dalam dunianya. Sifatnya menjadi sombong dan cenderung memamerkan kekayaannya. Ketika kesombongan diketahui oleh kalangannya tidak sesuai dengan kenyataan, Desi merasakan tekanan dalam batinnya dan tidak kepercayaan diri yang berlebihan.  Ketidak mampuan pada kenyataannya akibat pikiran yang melambung jauh, akhirnya membuat dirinya sulit berinteraksi dengan anak, suami, keluarga bahkan tetangga. Sehingga Desi cenderung menjadi introvert, melamun dan tenggelam dalam dunianya. Hal tersebut berlangsung cukup lama sehingga menimbulkan mimpi-mimpi dan halusinasi yang berujung pada adanya bisikan-bisikan dan perintah-perintah melakukan sesuatu yang baik atapun yang jahat. Sehingga Desi beranggapan adanya pengaruh jin.

Selama masa perawatan minggu ketiga, Desi mulai merasakan adanya perubahan pada dirinya. Bisikan-bisikan mulai berkurang, mulai terseyum dan berinteraksi dengan sesama pasien. Wajahnya sudah tampak cerah dan sumringah. Selama menjalani perawatan 3 minggu Desi mendapat terapi : bekam, ruqyah, akupuntur, totok syaraf dan selalu menjalani sholat 5 waktu. Kegiatan outing AAC juga ikut serta. Kami memang melaksanakan kegiatan keluar untuk refreshing pasien seperti : Olah raga (berenang, bermain bola dll), ke tempat-tempat rekreasi , ataupun mengikuti tausiah bersama. Saat itu Desi sudah mulai menerima bahwa sakitnya bukan karena pengaruh Jin, melainkan karena adanya gangguan pada saraf otak yang menyebabkan adanya bisikan-bisikan dan perintah-perintah padanya. Selain itu Desi sudah bisa menerima bahwa perilaku yang selama ini dia lakukan adalah salah dan Desi mulai belajar menjadi lebih baik dan menerima apa adanya.

Mengakhiri masa minggu keempat perawatan, Desi sudah tampak normal dan sangat jauh berbeda dengan kala pertama datang. Sang suami mengatakan Istrinya sudah kembali sedia kala. Mampu menerima masukan dari suaminya, tampak wajah dan tubuhnya segar dan bercahaya kembali. Demikian pula dengan anak-anaknya yang masih kecil, sangat bahagia bertemu dengan sang bundanya, Desi. Demikian juga dengan Desi betapa bahagia bisa bertemu dengan buah hatinya yang selama 30 hari tidak dapat ditemuinya. Desi  dan suaminya merasa sangat berterimakasih, dengan pengobatan dari Klinik Abu ALbani Centre yang dijalani Desi selama 30 hari ternyata tidak sia-sia. Kini mereka kembali berkumpul dan menjadi keluarga normal yang bahagia.

Demikian kisah nyata perjalanan seorang istri yang mengalami gangguan jiwa akibat tidak bisa menerima kenyataan hidup dengan membandingkan pada strata sosial yang lebih tinggi dan selalu menempatkan dirinya pada sosial yang lebih tinggi.

Dapat diambil hikmah dari kisah diatas. Bahwa kita sebagai manusia, pribadi dan memiliki lingkungan sosial dimasyarakat. Allah SWT ,memberikan kita rejeki dan kehidupan sudah sesuai dengan kemampuan kita. Menerima apa adanya dengan ikhlas dan tidak membandingkan ataupun menginginkan sesuatu yang tidak sesuai dengan kemampuan kita. Hidup ini lebih indah dan lebih berarti dibandingkan dengan kekayaan yang semu. Jalanilah kehidupan kita dengan ikhlas, menerima rejeki yang  Allah berikan, bekerja demi kebutuhan keluarga dan untuk memuliakan Allah SWT bukan untuk kesombongan atau memperoleh kedudukan strata sosial yang tinggi.

Bagi sahabat AAC yang memiliki keluarga atau teman yang mengalami gangguan jiwa dapat menghubungi klinik kami : Abu Albani Centre, Jl. Pendidikan Raya 29 Duren Sawit Jakarta Timur Phone : 021 29485951