Gangguan Kejiwaan Akibat Maslah Rumah Tangga

Gangguan Kejiwaan Akibat Maslah Rumah Tangga

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh

Sahabat AAC yang terhormat,

Kisah ini kami ambil dari kisah nyata seorang perempuan (sebut saja Sherly, nama samaran) yang mengalami gangguan jiwa akibat persoalan rumah tangga, dimana sang suami menurut anggapannya memiliki wanita idaman lain.

Berawal dari kedatangan sang suami ke klinik kami, untuk konsultasi dan meminta supaya tim AAC menjemput istrinya untuk menjalani perawatan di klinik AAC karena istrinya mengalami gangguan jiwa sudah cukup lama. Sherly demikian kita panggil, adalah seorang istri pejabat pada BUMN ternama di Indonesia. Sudah berbulan bulan hanya mengurung diri dikamar, tidak mandi, pakaian tidak ganti dan terlihat lusuh kumal dan maaf, bau badannya menyengat. Penampilannya  sama sekali bukan seperti seorang istri pejabat kebanyakan, bahkan rambutnya tampak seperti “nenek sihir’.

Tim AAC menjemput sherly, dan seperti biasa, mengalami penolakan tidak mau dibawa ke ke klinik. Dengan cara persuasif dan sedikit membutuhkan tenaga ekstra, akhirnya sherly dapat kami bawa ke klinik, walaupun dengan susah payah meyakinkannya.

Singkat kata, selama berada diklinik, sherly tidak mau makan obat langsung ataupun minum air yang kita berikan. Sherly kala itu memiliki waham, bahwa selama ini dia sudah kena pengaruh sihir. Seluruh isi rumah bahkan kendaraan dan segalanya ada pengaruh sihir. Sherly mengganggap bahwa semua itu karena ulah sang suami karena memiliki wanita idaman lain . Akibat stress yang berkepankangan akhirnya timbul disorientasi pikiran nya adanya halusinasi dan bisikan-bisikan . Setiap benda, kendaraan dan rumah yang ditempatinya sudah terkena pengaruh sihir. Bahkan sherly beranggapan bahwa dia dikirim dan dirawat di klinik AAC karena ingin dibuang atau disingkirkan. Suami dianggap sudah tidak peduli dan tidak menyayanginya lagi.

Selama awal perawatan tim AAC me ruqyah sherly, tidak ditemui adanya gangguan jin atau pengaruh sihir. Akan tetapi dapat disimpulkan dari pembicaraan dan perilakunya bahwa sherly mengalami depresi berat sehingga mengalami gangguan jiwa. Selama seminggu perawatan, sherly tidak mau minum yang diambilkan oleh terapis, karena takut dengan obat dan takut ada pengaruh sihir dalam air minumnya,  bahkan makan hanya minta dengan roti saja. Saat itu badan sherly kurus, bau,  kumal dan lusuh. Beberapa pasien lain takut dan menjauhi sherly.

Memasuki minggu kedua, dengan terapi rutin; ruqyah, bekam, akupuntur dan tausiah kepadanya serta sholat lima waktu yang wajib dijalankan, sherly sudah mau makan obat sendiri dan makan nasi sehari 3 kali. Perkembangan berangsur baik dari segi fisik nya sudah kelihatan cerah, tersenyum dan berbagi cerita. Saat itu Sherly masih mengatakan semua benda dirumah termasuk kendaraannya sudah kena pengaruh sihir. Bahkan anggapannya tubuhnya tidak bercahaya dan gelap karena pengaruh sihir.

Dengan kesabaran dan ketekunan tim AAC, serta terapi terapi yang sudah dilakukan kepada nya, pada akhir minggu kedua Sherly sudah minta untuk merawat diri; wajah dan badan nya dengan pergi ke salon, bahkan sudah mau mengenakan pakain bersih dan baru.

Menjelang minggu ketiga sherly sudah bisa menerima kedatangan suami dan mereka sudah terlihat kembali normal. Sherly bisa menerima sang suami kembali dan beberapa kali mereka keluar makan malam, berbelanja pakaian, pulang kerumah dan bercengkrama layaknya suami istri. Saat itu pula Sherly sudah beranggapan pengaruh sihir atas rumah, benda-benda dan kendaraannya sudah hilang setelah Tim AAC mengadakan Ruqyah dirumah Sherly.  Tim AAC merasa senang dengan perubahan tersebut, karena perawatan yang dijalani tidak sia sia dan berhasil.

Memasuki minggu ke empat kondisi sherly makin membaik, badannya mulai berisi, putih bersih, wajah cerah berseri seri, banyak canda dan tawa bersama tim AAC dan pasien lainnya. Sang suami juga merasakan perubahan tersebut dan merasa sangat senang. Niat baiknya untuk mengembalikan istri tercintanya kembali normal seperti semula diridhoi Allah SWT. Kecemburuan sang istri selama ini menurut sang suami terlalu berlebihan dan selalu beranggapan bahwa suami memiliki wanita idaman lain. Wajar saja, karena suaminya merupakan pejabat penting, berpenampilan oke sehingga banyak wanita yang mendekatinya.

Selama ini anak-anak Sherly, dua orang, yang sudah menginjak dewasa bahkan tidak berhubungan dan tidak  berusaha menemui ibunya. Mungkin karena merasa malu memiliki ibu yang mengalami gangguan jiwa. Menyadari hal tersebut dengan kondisi yang sudah kembali normal sebelum pulang mengakhiri masa perawatan, pada  akhir minggu keempat Sherly berusaha menemui anak-anaknya, ketika bertemu dengan ibunya, kedua anaknya tersebut merasa senang dan bahagia karena sang ibu sudah kembali normal. Mereka bepergian dan berlibur selama beberapa hari. Teman-teman anak ibu Sherly yang sudah pernah mengenal Sherly pun sangat senang melihat keadaan Sherly. Sang suami merasa kan hal yang sama dengan perubahan tersebut.

Sepulang berlibur Sherly, menceritakan bahwa dia sangat senang dan sangat berterimakasih pada Tim AAC. Karena kesabaran, keikhlasan, ketulusan dan terapi-terapi yang sherly dapatkan. Sehingga Sherly dapat kembali normal dan kembali menjadi keluarga yang utuh bersama suami dan anak anaknya.Sherly mengacungkan jempol untuk keberhasilan tim AAC mengembalikan kehidupannya.

Demikian kisah nyata yang dapat kami sampaikan pada sahabat AAC, semoga sahabat AAC dapat mengambil hikmah dari semua cobaan yang diberikan oleh Allah SWT. Bahwa penyakit dapat disembuhkan dengan kesabaran, keikhlasan dan keyakinan pada Allah SWT.

Akhir kata Tim AAC mengucapkan terimakasih atas penghargaan yang diberikan oleh keluarga ibu Sherly. Untuk sahabat AAC yang memiliki keluarga atau teman yang mengalami masalah serupa dengan ibu Sherly dapat konsultasi langsung dengan klinik Abu Albani Centre.

Wassalam