Skizofrenia mengancam kita semua

skizofrenia

Skizofrenia mengancam kita semua dan bisa mengenai siapa saja, namun apakah kita mengetahui apa itu skizofrenia? Bagaimana ciri - ciri orang yang mengidapnya? bagaimana cara menanganinya? karena deteksi awal dapat membantu mencegah penyakit ini berkembang menjadi akut. Untuk itu kami akan membahas lebih jauh tentang skizofrenia.

1. Pengertian Skizofrenia

Skizofrenia secara harfiah bukan berarti jiwa yang terpisah (schizein = terpisah phrenia = jiwa), tetapi orang dengan skizofrenia dapat melihat dunia dengan cara yang berbeda dari orang disekitar mereka. Mereka bisa mendengar/ melihat/ menghidu (mencium bau)/ merasakan hal yang tidak dialami oleh orang lain (halusinasi), misalnya mendengar suara (yang cenderung menjadi halusinasi yang paling umum). Mereka mungkin memiliki keyakinan yang tak tergoyahkan dalam hal yang tidak benar (delusi), misalnya bahwa orang membaca pikiran mereka, mengendalikan pikiran mereka atau berencana menyakiti mereka. Ketika dunia mereka kadang-kadang tampak menyimpang akibat halusinasi dan delusi, orang dengan skizofrenia dapat merasa takut, cemas dan bingung. Mereka bisa menjadi begitu kacau sehingga mereka dapat merasa takut sendiri dan juga dapat membuat orang di sekitar mereka takut.

Untuk melihat bagaimana kehidupan seorang penderita skizofrenia, dapat dilihat pada film yang diangkat dari kisah nyata kehidupan John Forbes Nash, berjudul “A Beautiful Mind”. Sebuah kisah yang sangat menarik dari seorang yang jenius, namun menderita skizofrenia. Dalam film ini digambarkan bagaimana tokoh utama yang menderita skizofrenia, seakan melihat, berinteraksi dan menjalin persahabatan dengan seseorang yang sebenarnya tidak nyata (halusinasi) sehingga tidak bisa dilihat oleh orang lain selain dirinya sendiri. Karena teman hayalannya tampak begitu nyata dalam pikirannya, John Nash pernah mencoba untuk membunuh  isterinya atas perintah dunia fantasinya. Penyakitnya ini bahkan membuat Nash sempat masuk rumah sakit jiwa untuk mendapatkan perawatan. Hal yang menarik dalam film ini adalah penyakit tidak dapat menghalangi seseorang berkreasi dan berpikir untuk memenangkan hadiah nobel.

2. Penyebab penyebabnya

Pengaruh Neurobiologis, ada beberapa teori tentang pengaruh neurobiologis yang menyebabkan Skizofrenia. Salah satunya adalah ketidakseimbangan pada dopamin, yaitu salah satu sel kimia dalam otak.

Pada pasien penderita, ditemukan penurunan kadar transtiretin atau pre-albumin yang merupakan pengusung hormon tiroksin, yang menyebabkan permasalahan pada zalir serebrospinal.

Skizofrenia mengancam kita semua dan bisa mengenai siapa saja. Data American Psychiatric Association (APA) tahun 1995 menyebutkan 1% populasi penduduk dunia menderita penyakit ini. 75% penderita mulai mengidapnya pada usia 16-25 tahun. Usia remaja dan dewasa muda memang berisiko tinggi karena tahap kehidupan ini penuh stresor. Kondisi penderita sering terlambat disadari keluarga dan lingkungannya karena dianggap sebagai bagian dari tahap penyesuaian diri.

Pengenalan dan intervensi dini berupa obat dan psikososial sangat penting karena semakin lama ia tidak diobati, kemungkinan kambuh semakin sering dan resistensi terhadap upaya terapi semakin kuat. Seseorang yang mengalami gejala skizofrenia sebaiknya segera dibawa ke psikiater dan psikolog atau klinik jiwa yang terpercaya.

3. Gejala Skizofrenia

Gejala-gejala skizofrenia pada umumnya bisa dibagi menjadi dua kelas:

  • Gejala-gejala Positif

Termasuk halusinasi, delusi, gangguan pemikiran (kognitif). Gejala-gejala ini disebut positif karena merupakan manisfestasi jelas yang dapat diamati oleh orang ain.

  • Gejala-gejala Negatif

Gejala-gejala yang disebut negatif karena merupakan kehilangan dari ciri khas atau fungsi normal seseorang. Termasuk kurang atau tidak mampu menampakkan/ mengekspresikan emosi pada wajah dan perilaku, kurangnya dorongan untuk beraktivitas, tidak dapat menikmati kegiatan-kegiatan yang disenangi dan kurangnya  kemampuan bicara (alogia)

4. Jenis-jenis Skizofrenia

  • Skizofrenia Paranoid
  • Skizofrenia Hebefrenik
  • Skizofrenia Katatonik
  • Skizofrenia Residual
  • Skizofrenia Simplek

5. Bantuan bagi Penderita Skizofrenia

Penderita skizofrenia memerlukan perhatian dan empati, namun keluarga perlu menghindari reaksi yang berlebihan seperti sikap terlalu mengkritik, terlalu memanjakan dan terlalu mengontrol yang justru bisa menyulitkan penyembuhan. Perawatan terpenting dalam menyembuhkan penderita skizofrenia adalah perawatan obat-obatan antipsikotik yang dikombinasikan dengan perawatan terapi psikologis.

Kesabaran dan perhatian yang tepat sangat diperlukan oleh penderita. Keluarga perlu mendukung serta memotivasi penderita untuk sembuh. Kisah John Nash, doktor ilmu matematika dan pemenang hadiah Nobel 1994 yang mengilhami film A Beautiful Mind, membuktikan bahwa penderita skizofrenia bisa sembuh dan tetap berprestasi.

Intervensi Psikososial
Hal ini dilakukan dengan menurunkan stresor lingkungan atau mempertinggi kemampuan penderita untuk mengatasinya, dan adanya dukungan sosial. Intervensi psikososial diyakini berdampak baik pada angka relaps dan kualitas hidup penderita. Intervensi berpusat pada keluarga hendaknya tidak diupayakan untuk mendorong eksplorasi atau ekspresi perasaan-perasaan, atau mempertinggi kewaspadaan impuls-impuls atau motivasi bawah sadar.

Tujuan intervensi psikososial keluarga adalah:

  1. Pendidikan pasien dan keluarga tentang sifat-sifat gangguan skizofrenia.
  2. Mengurangi rasa bersalah penderita atas timbulnya penyakit ini. Bantu penderita memandang bahwa skizofrenia adalah gangguan otak.
  3. Mempertinggi toleransi keluarga akan perilaku disfungsional yang tidak berbahaya. Kecaman dari keluarga dapat berkaitan erat dengan relaps.
  4. Mengurangi keterlibatan orang tua dalam kehidupan emosional penderita. Keterlibatan yang berlebihan juga dapat meningkatkan resiko relaps.
  5. Mengidentifikasi perilaku problematik pada penderita dan anggota keluarga lainnya dan memperjelas pedoman bagi penderita dan keluarga.

Psikodinamik atau berorientasi insight belum terbukti memberikan keuntungan bagi individu skizofrenia. Cara ini akan memperlambat kemajuan. Terapi individual menguntungkan bila dipusatkan pada penatalaksanaan stress atau mempertinggi kemampuan sosial spesifik, serta bila berlangsung dalam konteks hubungan terapeutik yang ditandai dengan empati, rasa hormat positif dan ikhlas. Pemahaman yang empatis terhadap kebingungan penderita, ketakutan-ketakutannya, dan demoralisasinya amat penting dilakukan.

Ada beberapa macam metode psikososial yang dapat dilakukan untuk membantu penderita Skizofrenia, diantaranya adalah:
• Psikoterapi individual

-  Terapi suportif 
-  Sosial skill training 
-  Terapi okupasi 
-  Terapi kognitif dan perilaku (CBT)

• Psikoterapi kelompok 
• Psikoterapi keluarga 
• Manajemen kasus 
Assertive Community Treatment (ACT)

6. Pengobatan Skizofrenia

Pengobatan andalan adalah pengobatan dengan antipsikotik, yang pada umumnya menekan aktivitas dopamin (dan kadang-kadang serotonin) reseptor. Psikoterapi dan rehabilitasi vokasional dan sosial merupakan perawatan yang juga penting. Pada kasus yang lebih serius yang melibatkan resiko untuk dirinya dan orang lain, maka perlu dilakukan perawatan di rumah sakit secara paksa, walaupun lama perawatan di rumah sakit sekarang ini lebih singkat dan tidak sesering waktu sebelumnya.

7. Kekambuhan Skizofrenia

Ada beberapa hal yang bisa memicu kekambuhan skizofrenia, antara lain tidak minum obat dan tidak kontrol ke dokter secara teratur, menghentikan sendiri obat tanpa persetujuan dari dokter, kurangnya dukungan dari keluarga dan masyarakat, serta adanya masalah kehidupan yang berat yang membuat stress, (Akbar, 2008).

Sullinger (dalam Keliat, 1996) mengidentifikasi 4 faktor penyebab klien kambuh dan perlu dirawat di rumah sakit jiwa, yaitu :

A. Klien

Secara umum bahwa klien yang minum obat secara tidak teratur mempunyai kecenderungan untuk kambuh. Hasil penelitian menunjukkan 25% sampai 50% klien yang pulang dari rumah sakit jiwa tidak memakan obat secara teratur (Appleton, dalam Keliat 1996). Klien kronis, khususnya skizofrenia sukar mengikuti aturan minum obat karena adanya gangguan realitas dan ketidakmampuan mengambil keputusan. Di rumah sakit perawat bertanggung jawab dalam pemberian atau pemantauan pemberian obat, di rumah tugas perawat digantikan oleh keluarga.

B. Dokter (pemberi resep)

Minum obat yang teratur dapat mengurangi kekambuhan, namun pemakaian obat neuroleptik yang lama dapat menimbulkan efek samping yang dapat menggangu hubungan sosial seperti gerakan yang tidak terkontrol. Pemberian resep diharapkan tetap waspada mengidentifikasi dosis terapeutik yang dapat mencegah kekambuhan dan efek samping.

C. Penanggung jawab klien (case manager)

Setelah klien pulang ke rumah maka penanggung jawab kasus mempunyai kesempatan yang lebih banyak untuk bertemu dengan klien, sehingga dapat mengidentifikasi gejala dini dan segera mengambil tindakan.

D. Keluarga

Ekspresi emosi yang tinggi dari keluarga diperkirakan menyebabkan kekambuhan yang tinggi pada klien. Hal lain adalah klien mudah dipengaruhi oleh stress yang menyenangkan maupun yang menyedihkan.

Keluarga mempunyai tanggung jawab yang penting dalam proses perawatan di rumah sakit jiwa, persiapan pulang dan perawatan di rumah agar adaptasi klien berjalan dengan baik. Kualitas dan efektifitas perilaku keluarga akan membantu proses pemulihan kesehatan klien sehingga status klien meningkat. Beberapa peneliti menunjukkan bahwa salah satu faktor penyebab kambuh gangguan jiwa adalah perilaku keluarga yang tidak tahu cara menangani klien Skizofrenia di rumah (Sullinger, dalam Keliat, 1996).